Lapas Gunung Sugih Jadi Tempat Perbaikan Diri, Warga Binaan Akui Alami Perubahan Besar


Detiktrans24.com // LAMPUNG TENGAH – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, kembali membuktikan fungsinya sebagai sarana pembinaan yang berorientasi pada perubahan perilaku dan peningkatan kualitas diri setiap warga binaan. Hal ini terungkap dari pengalaman yang disampaikan oleh salah satu warga binaan, M. Agung Ikhlasul Amal, yang membagikan kisah perubahan hidupnya kepada masyarakat, tertanggal 9 Mei 2026.

Dalam pernyataannya, Agung menyampaikan bahwa selama menjalani masa pembinaan, ia merasakan perubahan yang sangat mendasar, mulai dari pola pikir, sikap, hingga kehidupan spiritual. Ia juga memastikan kondisi kesehatannya senantiasa terjaga dan merasa nyaman menjalani seluruh proses pembinaan di tempat tersebut.

Menurut Agung, kegiatan yang berlangsung di dalam lapas tidak hanya sebatas pengamanan semata, namun diarahkan untuk membentuk karakter, menambah keterampilan, serta menumbuhkan kesadaran agar setiap warga binaan siap kembali ke tengah masyarakat dengan kepribadian yang jauh lebih baik.

"Selama saya berada di sini, diisi dengan berbagai kegiatan positif. Mulai dari kesenian, olahraga seperti futsal, sepak bola mini, bola voli, hingga bola basket, ada juga pelatihan keterampilan di bidang pertanian dan perikanan. Semua ini membuat saya merasakan Lapas Gunung Sugih layaknya rumah kedua bagi saya saat ini," tulis Agung.

Berbagai program pembinaan rutin dilaksanakan, mulai dari kegiatan keagamaan, pendidikan karakter, pelatihan keterampilan kerja, hingga olahraga dan seni. Seluruh kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kepercayaan diri, serta membekali setiap warga binaan dengan kemampuan yang bermanfaat untuk masa depan.

Agung mengaku perubahan terbesar yang ia rasakan terjadi pada sisi keagamaan. Ia mengakui bahwa sebelum menjalani masa pembinaan, dirinya jarang bahkan tidak pernah menjalankan ibadah secara rutin. Namun, lingkungan serta bimbingan yang ada perlahan mengubah cara pandang dan kebiasaan hidupnya.

"Dulu saya tidak pernah melaksanakan ibadah dengan tertib, tapi di sini saya diajarkan mengaji dan menjalankan sholat lima waktu. Kini hal yang dulunya jarang saya lakukan sudah menjadi kebiasaan dan kewajiban yang selalu saya jalani. Di tempat inilah saya mulai sadar, bertobat, dan bertekad mengubah seluruh perilaku buruk yang pernah saya lakukan," ungkapnya.

Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan pembinaan di lapas tidak hanya menitikberatkan pada aspek hukum, namun juga memulihkan kondisi mental, moral, dan sosial setiap warga binaan.

Agung juga menyoroti peran penting seluruh petugas dan pegawai Lapas Gunung Sugih yang senantiasa memberikan arahan serta motivasi. Baginya, bimbingan yang diberikan tidak sekadar memenuhi kewajiban tugas, namun benar-benar bertujuan membantu setiap warga binaan mempersiapkan masa depan yang lebih cerah setelah selesai menjalani masa pidana.

"Para petugas di sini selalu mengajarkan kebaikan dan memberikan nasihat yang sangat berharga. Tujuannya jelas, agar nanti saat saya bebas, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik, berguna bagi keluarga, serta memberikan manfaat bagi nusa dan bangsa," tegasnya.

 Ia menambahkan bahwa dirinya tidak pernah merasa terasingkan selama berada di dalam lingkungan lapas. Segala aktivitas dan ilmu yang didapat justru memberinya pengalaman hidup baru yang sangat berharga.

"Saya merasa nyaman dan tenang berada di sini. Banyak hal positif serta ilmu yang bermanfaat saya peroleh selama berada di Lapas Gunung Sugih. Semoga perubahan yang saya alami ini bisa menjadi contoh dan pesan bagi semua orang, bahwa tempat ini adalah sarana perbaikan diri dan pembinaan menuju masa depan yang lebih baik," tutup Agung.

Kisah yang disampaikan warga binaan ini semakin memperkuat gambaran bahwa sistem pemasyarakatan tidak hanya berperan dalam penegakan hukum, namun juga memiliki tugas utama dalam proses pembinaan dan reintegrasi sosial. Melalui berbagai program yang menyentuh aspek mental, spiritual, pendidikan, dan keterampilan, diharapkan setiap warga binaan dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang produktif, bertanggung jawab, serta diterima dengan baik oleh lingkungan sekitar. (Jn)

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR